Memaknai Kesuksesan dan Kebahagiaan

Sedari kecil, kita sering sekali dijejali oleh tujuan-tujuan yang jelas di depan mata. Di penghujung SD, bertarget ingin masuk SMP favorit. Di penghujung SMP, bertarget ingin masuk SMA favorit. Di penghujung bangku sekolahan SMA, bertarget ingin memasuki kampus negeri yang jurusannya sesuai dengan minat, jikalau bisa di salah satu kampus-kampus TOP negeri ini. Setelah di kampus maka ingin segera menyelesaikan proses pendidikan tersebut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Jika sempat tertundapun, setidaknya untuk alasan-alasan yang memang worth. Lalu, setelah lulus, mau apa?

Ketika lulus dari jenjang pendidikan dan memutuskan untuk lepas dari dukungan materi orang tua, mulai muncullah desakan untuk berpenghasilan. Maka, melakukan kegiatan atau pekerjaan untuk mencari uang menjadi salah satu hal yang akan sering mewarnai hidup. Salahkah? Tidak! Toh Allah menyuruh manusia bertebaran di muka bumi demi mencari rezekinya. Awalnya, mendapatkan uang berapapun sebulan sudah terasa cukup. Lama-lama, sejuta, dua juta, dst terasa tidak cukup. Ada saja rasanya kebutuhan yang ingin dipenuhi. Selagi menjadi pekerja, maka tak usah bermimpi menjadi miliarder-miliarder macem di tivi-tivi, kecuali jika mau menyentuh panasnya api neraka dengan korupsi, naudzubillahimindzalik.

Lalu terpikir, jika ingin memperbesar penghasilan, maka berbisnilah. Rasulpun mengajarkan begitu. Mayoritas pintu rezeki itu dari berdagang. Ketika bisnis mendapatkan untung banyak, lalu buka cabang, atau akhirnya bisa bikin bisnis di bidang lain, akhirnya punya duit banyak deh. Lalu apa? Sudahkah mencapai “sukses” dan akhirnya puas lalu berhenti saja menikmati semua jerih payah mencari uang selama ini?

Lalu terpikir lagi, oh ternyata sukses tidak hanya dari materi atau uang. Sukses mungkin dapat didefinisikan sebagai rasa bahagia dan sepertinya bahagia tak akan lengkap jika tidak berkeluarga. Maka terpikir untuk menikah, menghasilkan keturunan. Lalu tumbuh tua, anakpun menjadi dewasa, berhasil jadi orang, dan dia memberikan cucu untuk kita. Lalu apa? Sudahkah sukses? Sudahkah bahagia?

Jika akhirnya sudah terjawab kesuksesan dan kebahagiaan tersebut dengan memiliki harta banyak dan keluarga yang senantiasa mengisi hari, lalu apa? Berhenti sajakah dari segala perjuangan di dalam hidup karena tak ada lagi yang layak tuk diperjuangkan? “Toh saya sudah capek selama ini, saatnya sekarang saya beristirahat dan menikmati jerih payah selama ini”. Itukah jawabannya?

Logika-logika kemungkinan realitas di atas mungkin hadir ketika kita tidak menghadirkan agama dalam cara kita memandang hidup. Setelah saya merenung, betapa indah Islam. Dia memberikan visi hidup yang dapat menjadi energi perjuangan yang takkan pernah mati. Kita ingin untuk beribadah kepadaNya dan kembali ke surgaNya. Jikalau pun kita telah memiliki harta banyak dan keturunan, apakah kita tak bisa lagi beribadah? Apa yakin dengan amal segitu sudah cukup untuk membeli surgaNya Allah? Ketika visi agama telah berhasil merasuki setiap sisi kehidupan, bagi saya, itulah kesuksesan dan kebahagiaan yang hakiki.

Semoga visi ukhrawi ini selalu terpatri dalam hati, menjadi ingatan alam bawah sadar yang kan menggerakkan tubuh ini untuk senantiasa berada dalam kestiqamahan. Dan semoga dengan keistiqamahan tersebut, raga ini tak pernah lelah untuk terus berjuang demi beribadah kepadaNya dan kembali ke surgaNya. Teringat kata para ulama, “Istirahatnya seorang muslim adalah di surga”. Amin ya Rabb.

Categories: Kontemplasi | Tags: , , , | Leave a comment

Mendewasa – Independensi Memilih

Sudah 6 bulan berlalu sejak saya menyelesaikan program profesi di kedokteran, 3 bulan lebih sejak saya mengikuti ujian kompetensi, 2 bulan lebih dari saya dinyatakan lulus dari FK Unpad, dan satu bulan dari wisuda profesi dan sumpah dokter. Hubungan saya dan kampus saat ini hanya sebatas menunggu urusan peradministrasian selesai. It feels like, I’m fully an independent man now. Independensi memilih ini adalah sebuah keniscayaan yang harus saya tempuh demi menjadi seorang dewasa yang seutuhnya.

Ya, apa yang saya lakukan saat ini, nyaris penuh berada dalam kendali keputusan saya. Ada sejawat yang memutuskan untuk terjun ke praktik klinis, menjadi asisten seorang dokter senior, terlibat dalam penilitian, mengajar, melakukan bisnis di luar profesi kedokteran, berorganisasi, atau bahkan tak melakukan hal-hal produktif sekalipun (hanya sekedar menunggu nasib; baca: internship).

Kini, tak ada lagi batas-batas akademik dan nyaris lepas pula dari orang tua karena sudah mulai mencari penghidupan sendiri. Mungkin beberapa orang berpikir, “Wah, asik dong! Udah bebaas!”. Tapi justru disini saya terkadang merasa khawatir. Saya harus bertahan dengan semua kesendirian dan independensi ini.

Teringat akan kata salah seorang Imam shalih di masa dahulu. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, maka pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil”

Tak ada tengah-tengah. Karena tidak melakukan apa-apa atau tak memanfaatkan waktu dengan baik adalah kesia-siaan dan kesia-siaan adalah bagian dari kebatilan. Semoga Allah selalu jaga diri ini agar selalu sibuk dengan kebaikan sehingga tak ada waktu sedikitpun untuk mengerjakan kebatilan. Dan semoga Allah selalu jaga agar diri ini tawazun baik dalam perihal dunia maupun akhirat. Amin ya Rabb.

Categories: Kontemplasi | Tags: , , , | Leave a comment

CBT UKMPPD – Belajar dari Kelalaian – Sedikit Tips dan Trik

Tulisan ini khusus saya buat untuk teman-teman yang akan ujian UKMPPD di masa-masa yang akan datang. Ada beberapa kelalaian yang saya perbuat, semoga teman-teman yang ujian di periode-periode berikutnya tidak mengulangi apa yang saya perbuat.

Sedikit prolog dulu. Saya baru menyelesaikan PSPD (program studi profesi dokter) atau yang akrab disebut koas September 2014 kemarin, oleh karena itu kebagian UMMPPD (ujian kompetensi mahasiswa program profesi dokter) nya November 2014 ini. Ujian ini dibagi menjadi 2 sesi, yakni CBT (computer based test) – ujian pilihan ganda sebanyak 200 soal dengan karakteristik soal yang lebih klinis dibanding soal-soal jaman s1 dulu – dan OSCE (objective structured clinical examination) – ujian praktek, seakan-akan udah jadi dokter beneran lalu anamnesis, pemfis, sampe diagnosis dan treatment.

Fyi, UKMPPD November 2014 ini diikuti oleh lebih dari 2000 mahasiswa kedokteran se Indonesia dan dilaksanakan di lebih dari 20 centre pendidikan kedokteran. Nah, dari semua lokasi penyelenggaraan ujian yang ada di Indonesia, yang paling ramai pesertanya adalah di Unjani (penyelenggara UKMPPD periode Nov 2014 utk wil. Jawa Barat), yaitu tempat saya ujian. Mencapai lebih dari 230 an peserta kalo tidak salah. Oleh karena keterbatasan fasilitas laboratorium dan unit komputer di Unjani, CBT di tempat saya dibagi menjadi 3 kloter: sabtu pagi, sabtu siang, dan minggu siang.

So, saya baru menyelesaikan CBT saya hari ini. Dari apa yang saya alami, saya ingin menyampaikan beberapa cerita ‘behind the scene’ serta tips dan trik kepada teman-teman:

1. Masalah persiapan, sudah normatif lah yaa, don’t forget to study. Gaya belajar mah bebas mau sendiri, belajar kelompok sm temen-temen, ataupun les. Sesuaikan dengan kantong dan efektifitas belajar teman-teman. Karena begitu banyaknya materi, mungkin sistemnya bisa bahas soal sebanyak-banyaknya lalu pelajari kembali protap dan basic nya gimana. Kalo udh mepet H-1, saya menyarankan lebih baik review protap atau guideline saja, terutama yang bagian besar (spt IPD). Karena soal UKDI itu analitik bangeet, jd basic berpikirnya harus kuat.

2. Ketika ujian, kita tidak diizinkan membawa apapun kecuali: nametag dan KTP. Jaket pun dilarang. Obat-obatan dititip ke panitia. Nah, biasanyaaa, lab komp. CBT itu AC nya super dingin, biar si kompinya ga pada overheat. Jadi, gunakan pakaian yang semenutup mungkin, bahannya cukup hangat (contoh: flanel). Kapok banget saya ujian pake batik bahan tipis dan ternyata ruangan dingin banget, bikin saya pengen kencing ke WC berkali-kali.

3. Nah ini lebih teknis. Kita kan ngerjain soal-soal ujian itu di komputer, so we face a technology. Don’t mess up. Detilnya, CBT ada 200 soal, harus dijawab dalam 200 menit (200 menit disini bener-bener adil kok, count down waktu per orang terdapat di worksheet masing-masing, sesuai dg dia klik mulai ujiannya kapan), satu soal terdapat dalam satu sheet halaman web. Dalam satu halaman itu terdapat beberapa konten: text atau gambar soal, pertanyaan, opsi jawaban A sampai E yang di sampingnya ada buletan untuk kita ngisi jawaban (satu soal cm bisa klik satu opsi, jd kalo awalnya klik jawaban A lalu klik B, otomatis isiannya akan pindah, ga jadi double keisi A dan B -standar lah ya-), link untuk buka normal value lab (nilai hematologi, BGA, diff count, elektrolit, CSF, dll), opsi untuk mengisi ragu-ragu, opsi untuk mengosongkan jawaban (dengan ngeklik ini, jawaban kita yang sebelumnya sudah terisi akan terkosongkan, this is the most useless icon in the worksheet, never click it, I’ll tell it why), dan terakhir link scroll soal no. 1 sd 200 utk jump soal yang jauh-jauh jarak nomernya dengan cepat. Lalu, CBT ini sendiri dibagi menjadi 2 sesi. Pertama sesi latihan sebanyak 10 soal yang terdiri dari 10 soal dengan waktu 3 menit. Ndak usah khawatir salah disini, karena ga akan mempengaruhi nilai. Sesi ini dibuat utk kita membiasakan diri dengan worksheet yang akan dihadapi pada ujian sebenarnya nanti. Kedua, sesi ujian sebenarnya yang 200 soal tea. Di soal ke 200, akan ada opsi klik tambahan yaitu ‘kumpulkan jawaban’, jika ngeklik ini, kita akan sampai ke resume pengerjaan soal kita yang terdiri dari: berapa soal yg sudah kita jawab, berapa yang ragu, dan berapa yang kosong. Pas nyampe halaman ini, akan ada 2 opsi, ‘sudahi ujian’ atau ‘kembali ke soal nomor 1’. Jika pilih kembali ke soal no.1, tenang saja, jawaban kita ga akan hilang, kalopun hilang, dia udh autosaved via jaringan inet. Nah, kroscek jawaban mana yang masih ragu dan kosong bisa di scroll click jump soal 1 sd 200 tea, yang tanda bintang berarti masih kosong, yang tanda tanya berarti masih ragu-ragu.
Nah, itu situasi pengerjaan soalnya. Saya skrg cb ceritakan pengalaman saya sehingga teman sekalian bisa mengambil hikmah dari kejadian ini. Saya berstrategi, setiap soal yang saya ragu, saya klik opsi ‘ragu-ragu’ agar di akhir sesi ujian saya dapat melihat seberapa yakin saya dg pengerjaan soal saya. Nah, beres ngerjain 200 soal, ternyata resume saya: 200 soal sudah dikerjakan, 0 kosong, dan 77 ragu-ragu. Saya tidak ada niatan untuk double check jawaban karena waktu sisa tinggal sekitar 6 menit-an. Nah, sebenaenya, yang ragu-ragu kalo saya biarin, dia ttp akan dihitung sebagai jawaban seutuhnya setara dg yang ga ragu-ragu. Jadi kalo bener ya bener, kalo salah ya salah. Nah, saya malah perfectionis ga jelas gitu, mencoba menghilangkan klik ‘ragu-ragu’ di 77 soal tsb dg sisa waktu 6 menit-an, alhasil, it’s a super buru-buru work. Nah, ternyata, waktu habis sebelum saya beres ngeklik ulang smw yang ragu-ragu tadi. Alhasil, resume pengerjaan soal saya jadi begini: 199 soal yang telah dikerjakan, 1 kosong, 5 ragu-ragu. ARRGHHH! TIDAAAK! Kenapa jadi ada 1 yang kosooong? Ternyata, sepertinya waktu buru-buru ngehilangin klik ragu-ragu tadi, saya malah ngeklik mengosongkan jawaban, saya ga sadar, baru ngeuh pas waktu abis dan liat resume. Saya bener-bener nyesel ngerjain pekerjaan useless ngeklik ulang smw yang ragu-ragu tsb. Lumayan cuuuy, 1 soal, nilainya 0,5. Nah, jd saya sarankan temen-temen kalo ga penting banget ngeklik ragu-ragu, mending ga usah diklik. Kalopun mau dg tujuan nanti mmg mau balik lagi ke soal tsb buat double check mangga. Tp kalo ingin evaluasi diri macem saya di atas, mending langsung finalisasi jawaban stlh 200 soal terjawab, ga usah balik-balik macem saya sehingga memungkinkan kejadian ngeklik kosongkan jawaban. Karena mau 77 soal ragu juga, semuanya dapet peluang nilai yang sama. Fiuuuh. Harus ikhlas nih, ikhlaaas T-T

4. The final tips. Di zaman saya ujian, utk pelaksanaan ujian 2 hari panitia menyediakan soal sebanyak sekitar 400 item. Jadi, 1 hari, kloter pagi dan siang soalnya sama, biar mencegah soal bocor, yang pagi dikarantina dulu tanpa gadget di lokasi ujian sampai ujian siang dimulai. So, 1 hari cuma ada 200 soal. Tau ini maknanya apa? Soal lu sama temen sebelah lu samaaa. Cuma beda randomisasi urutan soalnya aja, karena pake teknologi komputer kan, biar ga mudah nyontek gitu. Never try cheating! Karena panitia ga akan negur, mereka langsung nulis di berita acara dan kita bisa gugur tanpa kita sadari. Nah, pointnya apa saya cerita gini? Bagi temen-temen yang ujian hari ke-2 manfaatkan momentum ini! Ngobrol sm temen yg ujian hari 1 keluar soalnya apa aja. Minimal, bisa paham karakteristik soal gimana, karena pola hari 1 dan 2 ga jauh beda. Misal hari 1 ada soal ttg parasit dan malaria, begitupun hari 2. Ada kemungkinan soal sama, meskipun sgt sedikit, ada juga soal yang dibolak-balik dg pertanyaannya atau soal sama namun pertanyaan diubah. Pokoknya, yang ujian hari ke-2 itu super beruntuung. Yaa..meskipun soalnya tetep susah sih, susahnya selangiit. Kalo kata saya, ini susahnya lebih-lebih dari soal kompre dan try out dari kampus saya. So, yang ujian hari-2, manfaatkan malam harinya belajar protap atau guideline sesuai karakteristik soal hari 1.

Sedikit reminder, smw yg saya tulis di atas berdasarkan apa yang saya alami dari UKMPPD Novemver 2014. So, ndak ada jaminan situasinya akan sama untuk periode-periode selanjutnya.
Fiuuh, panjang juga tulisannya. Semoga ada manfaatnya ya wankawan.

Note: tulisan ini saya tulis di saat saya masih belum OSCE dan belum tau hasil ujian kaya gimana. So, mohon doanya ya semuaa. Makasiih🙂

Categories: Pengalaman hidup | 1 Comment

Tinggikan Kalimat Allah

Judul di atas adalah salah satu materi Salimul Aqidah dalam kurikulum Pembinaan Islam (Tarbiyyah). Ya, saya lagi kepikiran aja karena hari ini baru saja ngasih materi ini dan mendapat materi yang ga jauh-jauh dr bahasan ini dalam lingkaran-lingkaran kebaikan (insyaAllah).

Sudah menjadi konsekuensi, bagi seorang muslim untuk tunduk dan patuh akan semua perintah Allah, termasuk meninggikan kalimat Allah, it means, memenangkan islam dari segala sistem lain yang ada. Entah itu kapitalis, sosialis, liberalis, komunis, bahkan demokratis sekalipun, there is no pure wealthness in each of it. Meski terkadang terkesan indah, pasti ada cela dlm setiap sistem tersebut. Di satu sisi terlihat ada nilai-nilai luhurnya, tp di sisi lain ada kebobrokan pd nilai maupun pelaksanaannya. Seakan sistem-sistem ini menggunakan standar ganda. Ya secara sistem ini adalah buah pikiran manusia dan tak ada jaminan kesempurnaan pada diri manusia.

Allah lebih tau apa yang baik dan tidak untuk manusia. Ketika manusia dituntut untuk taat pada perundang-undangannya Allah, hal tsb tidak lain untuk kemaslahatan manusia sendiri. Allah bebas dari tendensi apapun. Ketika kita taat padaNya, hal ini tidak akan menambah kekuasaanNya secuilpun, and vice versa.

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan sistem kebenaran agar Ia memenangkannya atas segala sistem yang ada meskipun orang-orang musyrik itu benci” (Ash-Shaf ayat 9)

Begitu banyak carut marut dalam negeri ini. Our country is still not in ideal condition yet. Kalo kata guru saya, “Negara kita ini ga jelas laki-laki apa perempuannya (read: banci). Kapitalis kaga, komunis engga, liberalis atau sosialis juga engga, demokrasi murni pun engga”. Tapi yasudahlah, even skrg katanya negara kita demokratis yang inipun masih belum berlandaskan islam, hal ini msh lebih baik drpd sistem yang mengkebiri perkembangan islam seperti yang terjadi di masa lalu.

Dua kubu kekuatan politik dalam eksekutif dan legislatif saat ini cukup menimbulkan banyak gejolak dalam dunia tata negara.
What should we do? Apatis? Let it flow? If you do, don’t claim anything from your country, coz you don’t care either. Do our part, even if it just a pray. If every muslim pray something good for this country, may Allah make it true someday. And be a good person from now on. Be good from value of islam. We don’t know yet what will happen in our future. If the time has come to our generation, we must be ready. Ready to win the islam system. Yooshh! >.<

Categories: Aku dan dakwah, Pemikiran saya | Leave a comment

In Loving Memory

Thanks for all you’ve done
I’ve missed you for so long
I can’t believe you’re gone
You still live in me
I feel you in the wind
You guide me constantly

I never knew what it was to be alone, no
‘Cause you were always there for me
You were always home waiting
But now I come home and I miss your face so
Smiling down on me
I close my eyes to see

And I know you’re a part of me
And it’s your song that sets me free
I sing it while I feel, I can’t hold on
I sing tonight ’cause it comforts me

I carry the things that remind me of you
In loving memory of the one that was so true
You were as kind as you could be
And even though you’re gone
You still mean the world to me

I never knew what it was to be alone, no
‘Cause you were always there for me
You were always home waiting
But now I come home and it’s not the same, no
It feels empty and alone
I just can’t believe you’re gone

I’m glad it sets you free from sorrow
But I’ll still love you more tomorrow
And you’ll be here with me still
All you did you did with feeling
And you always found a meaning

And you always will
And you always will
And you always will

A song by: Mark Tremonti, Alter Bridge in One Day Remains, 2004.

Saya baru tau ternyata lagu ini dibikin Mark Tremonti dilatarbelakangi ibunya yang sudah tiada. Ini alasan kenapa saya begitu menyenangi Alter Bridge, lagunya deep meaning, ga cetek macem lagu cinta anak jaman sekarang.

Kalo Mark Tremonti nyanyiin lagu ini inget nyokapnye, dalam kondisi saat ini, saya inget sama bokap. I wonder what will he told to me in my condition nowadays. I miss his little and bit wisdom words. Haha, kambuh deh melankoli gue. Calm dad, I’ll make it through. I’ll keep our family to survive, to reach the brighter future. InsyaAllah.

Categories: Music | 1 Comment

Hanyakah Kata?

Sejujurnya, saya sangat menyenangi persaudaraan ini. Tak perlu usaha inisiasi, kemanapun kaki melangkah, pasti ada sosok penuh inspirasi, sevisi, yang dengan tanpa diminta kan setia menemani. Namun, apa persaudaraan kita ini hanya sekedar melankolisasi? Apakah ini hanya sekedar dramatisasi masa lalu? Karena dulu kita pernah merajut cerita dan ini kini enggan jika tetiba berpura menjauh.

Ayyuhal ikhwah! Sampai kapan kita ingin terjebak dengan keindahan2 cerita yang telah lalu? Sampai kapan kita ingin merasa bahwa kita belum sanggup merengkuh kehidupan masa kini? Sampai kapan kita baru merasa tangguh untuk menghadapi semua jika kondisi ideal lalu terjadi di masa kini? Sampai kapan?

Kita berada bersama disini atas kesadaran kita sendiri. Kita memilih karena kita paham dan yakin akan hakikat perjuangan ini. Jika merasa terpaksa, untuk apa lagi melakoni drama? Allah tau kok hati kita. Mau merasa rendah? Tak ada guna. Mau lari? Silahkan! Silahkan rasakan busuknya sendiri dalam kegelapan.

Dakwah kita kini bukan lagi sekedar dakwah idealisme semata, namun dakwah yang juga butuh kerja nyata, bukan sekedar kata. Dakwah yang tak hanya ketika diminta, namun siap sedia dalam realita.

Kegelisahanku terjawab dengan keberadaan saudara terbaikku. Namun, kami tak bisa selamanya disini, ada saat kami tuk pergi. Ku sempat khawatir tentang suatu masa, masa dimana semua terasa jauh berbeda. Semoga Allah wujudkan dakwah dengan warna yang berbeda dari kekhawatiranku.

Ku sadar, diri ini masih penuh cela. Namun, ku tak mau terjebak dalam hina. Ku tak peduli dengan apa kekata mereka, biar Dia yang menilai semua.

(sebuah renungan tentang kondisi kekinian para pejuang)

Categories: Aku dan dakwah, Curcol | Leave a comment

Taiko – Ikrar pernikahan Hideyoshi dan Nene

Baru beberapa hari yang lalu beres baca novel “Taiko” (setelah 6 bulan nyoba namatin, et causa bukunya super tebel, koas, plus serius bacanya juga musiman, haha). Sebuah novel true story sepanjang masa paling keren yang pernah saya kenal. Kenapa? Pertama, Eiji Yoshikawa (sang penulis novel ini) lahir tahun 1892, membuat novel Taiko tahun 1932, dan meninggal tahun 1962. Bayangkan, karya yang telah lahir sejak lama ini dan bahkan penulisnya pun sudah di alam lain hingga saat ini masih laris dan dibaca oleh banyak orang. Kedua, mas Salim cerita ke saya bahwa novel ini juga terjual sangat laris di Jepang. Saking larisnya, total pembelian novel Taiko di Jepang lebih banyak 3 kali lipat dari jumlah penduduk Jepang sendiri. Dahsyat!

Taiko

Jadi, novel ini bercerita tentang kisah peperangan pada abad 16 di Jepang (sekitar 2 abad sebelum restorasi meiji). Pada masa tersebut, Jepang dikuasai oleh seorang Kaisar – seharusnya, namun pada kenyataannya keberadaannya hanya sekedar menjadi simbol. Negeri Jepang pada saat itu benar-benar ditentukan arah geraknya oleh pertempuran antar marga. Ada 3 panglima tertinggi pada saat itu yang sangat dikenang oleh orang Jepang hingga yang keberpengaruhannya berefek secara nyata, yaitu: 1) Nobunaga Oda yang ekstrem, penuh karisma, namun brutal. 2) Ieyasu Tokugawa yang tenang, berhati-hati, bijaksana, berani di medan perang, dan dewasa. 3) Namun kunci dari tiga serangkai ini adalah HIdeyoshi Toyotomi, si kurus berwajah monyet yang secara tak terduga menjadi juru selamat bagi negeri Jepang yang porak-poranda.

Singkat cerita, ada sepotong kisah dari novel ini yang cukup berkesan di hati saya, yaitu saat Hideyoshi berdiskusi dengan Nene – istrinya yang baru saja dinikahinya saat itu. Pada saat itu Hideyoshi masih dikenal dengan nama Tokichiro. Begini ceritanya.

*****

Tokichiro duduk, dan berkata, “Nene, mendekatlah.”

“Ba..Baik.”

“Pernah ada yang mengatakan bahwa istri yang baru dinikahi serupa dengan tempat penyimpanan beras. Kalau tidak dipakai untuk waktu lama, kedua-duanya berbau apak dan tak bisa digunakan lagi. Kalau sudah tua, simpai-simpainya cenderung copot. Tapi ada baiknya mengingat bahwa seorang suami adalah seorang suami. Kita berencana untuk hidup lama bersama-sama, dan telah berjanji untuk saling setia sampai kita berdua sudah tua dan ubanan, tapi hidup takkan mudah. Jadi, mumpung kita baru mulai, sebaiknya kita saling berikrar. Bagaimana menurutmu?”

“Tentu. Aku akan taat sepenuhnya pada ikrar ini, bagaimanapun bunyinya,” Nene menjawab tegas.

Tokichiro tampak serius sekali. Ia bahkan kelihatan agak cemberut. Namun Nene justru gembira melihat ekspresi ini untuk pertama kali.

“Pertama-tama, sebagai suami, aku akan memberitahumu apa yang kuharapkan dari seorang istri.”

“Baik.”

“Ibuku perempuan petani miskin dan menolak menghadiri pernikahan kita. Tapi orang yang paling berbahagia di dunia karena aku mengambil istri adalah ibuku.”

“Aku mengerti.”

“Cepat atau lambat, dia akan tinggal serumah denganmu, tapi aku tidak keberatan kalau kau menomorduakan urusan melayani suami. Lebih dari apapun, aku ingin kau menyayangi ibuku dan membuatnya bahagia”.

“Baik.”

“Ibuku lahir dari keluarga samurai, tapi lama sebelum aku lahir, dia sudah hidup miskin. Dia membesarkan beberapa anak di tengah kemiskinan. Membesarkan satu anak saja dalam keadaan seperti itu berarti bergelut dengan penderitaan. Ibuku tak punya apapun untuk membuatnya bahagia – kimono katun untuk musim dingin dan panas pun tak dimilikinya. Dia tidak berpendidikan, dia bicara dalam logat udik, dan dia sama sekali tidak tahu tata krama. Sebagai istriku, bersediakah kau mengurus ibuku dengan cinta kasih sejati? Apakah kau bisa menghormati dan menghargainya?”

“Tentu. Kebahagiaan ibumu adalah kebahagiaanmu juga. Kurasa itu sudah sewajarnya.”

“Tapi kau juga memiliki orang tua yang sehat. Merekapun sangat penting bagiku. Kasih sayangku terhadap mereka tak kalah dengan kasih sayangmu.”

“Ucapanmu membuat hatiku gembira.” Ucap Nene.

“Lalu masih ada satu lagi,” Tokichiro melanjutkan. “Ayahmu telah mendidikmu menjadi perempuan yang berbakti, dan mengajarkan disiplin dengan menegakkan banyak peraturan. Tapi aku tidak menuntut banyak. Hanya ada satu hal yang kuminta darimu.”

“Apa itu?”

“Kuminta kau bahagia dengan pengabdian suamimu, dengan pekerjaannya, dan segala sesuatu yang harus dilakukannya. Hanya itu. Kedengarannya mudah, bukan? Tapi pasti sama sekali tidak mudah. Perhatikanlah suami-istri yang telah bertahun-tahun hidup bersama. Ada istri-istri yang sama sekali tidak tahu-menahu mengenai pekerjaan suami masing-masing. Suami-suami seperti ini kehilangan dorongan penting, dan laki-laki yang bekerja demi kepentingan bangsa dan provinsi pun menjadi kecil dan lemah jika dia berada di rumah. Kalau saja istrinya bahagia dan tertarik pada pekerjaan suaminya, pada pagi hari laki-laki itu bisa maju ke medan tempur dengan segenap keberanian yang dimilikinya. Bagiku, inilah cara terbaik seorang istri membantu suaminya.”

“Aku mengerti.”

“Baiklah. Sekarang coba ungkapkan apa saja yang kauharapkan dariku. Katakanlah dan aku akan berjanji.”

Walaupun diminta angkat bicara, Nene tak sanggup mengatakan apa-apa. Ia hanya diam seribu bahasa.

“Apapun yang diinginkan seorang istri dari suaminya. Jika kau tak mau menceritakan keinginanmu, bagaimana kalau aku saja yang menguraikannya?” Nene tersenyum dan menanggapi ucapan Tokichiro dengan anggukan kepala. Kemudia ia cepat-cepat menunduk.

“Cinta seorang suami?”

“Bukan.”

“Kalau begitu, cinta yang tidak berubah?”

“Ya.”

“Melahirkan anak sehat?”

Nene gemetar. Seandainya ada lampu, Tokichiro akan melihat bahwa wajahnya merah padam

*****

Meskipun ada beberapa situasi dalam kisah tersebut yang mungkin agak aneh dan kurang tepat jika dibandingkan dengan hidup kita di Indonesia pada saat ini, secara keseluruhan, saya suka dengan dialog ini, sarat dengan nilai:

  1. Dalam novel ini, proses nikahnya Hideyoshi cukup syar’I menurut saya, ngislam banget. Ga ada yang namanya pacaran, langsung temuin orang tua, bilang siap untuk nikahin anaknya. Ketika kata sepakat telah tercapai, no need to wait so long. Dalam waktu segera melangsungkan pernikahan. Makanya, proses taaruf banyak dilakukan Hideyoshi ketika telah berumah tangga dengan Nene.
  2. Hal yang sangat penting dalam fase-fase awal menciptakan rumah tangga yang produktif dan harmonis adalah kesepakatan dalam visi rumah tangga. Dan itulah yang dilakukan Hideyoshi. Agar terhindar dari hal-hal yang mengecewakan, mereka membuat ikrar terlebih dahulu. Saling menyepekati, bahkan sang istri pun juga berhak untuk ambil bagian dalam ikrar ini, meskipun dalam kisah tersebut Nene agak malu-malu mengutarakan.
  3. Yang saya suka dari cara Hideyoshi menempatkan diri sebagai anak adalah, dia menganggap bahwa dirinya tetap milik ibunya meskipun dia telah mempunyai keluarga sendiri. Dan ini mirip dengan hakikat seorang laki-laki yang telah berumah tangga di dalam Islam. Sedangkan wanita, sepenuhnya milik sang suami
  4. Bahwa pernikahan bukan hanya menyatunya dua individu akan tetapi juga dua keluarga. Makanya Hideyoshi mengajukan permintaan ini kepada Nene, yaitu untuk menjaga serta mengasihsayangi ibunya. Mirip banget Hideyoshi sama rencana hidup saya, bahkan mungkin saya lebih ekstrem. Saya akan meminta istri untuk mengasihsayangi ibu, kakak, serta adik saya. Situasinya cukup panjang kalo diceritakan, tapi kira-kira begitulah rencananya *eh, kok malah jadi curcol?
  5. In my point of view, suami adalah tokoh/duta rumah tangga. Yang menjadi garda terdepan dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Prestasi-prestasi besar rumah tangga sangat ditentukan oleh sang Ayah. Meskipun, saat sekarang peran wanita di eksternal sudah jauh lebih signifikan dibanding zaman dulu, tetep, gue ga mau kalah sama istri, hahaa #egois. Sedangkan istri bertugas untuk menjaga apa-apa yang ada di dalam rumah tangga, terutama anak. Kalo diibaratkan, suami itu adalah attackers, sedangkan istri defenders. Meskipun begitu, Hideyoshi cerdik dalam menanggapi situasi ini. Dia meminta Nene untuk memahami semua hal yang dia kerjakan, agar apa yang menjadi dari bagian hidup Hideyoshi di luar rumah, tak luput dari sang istri, serta meneguhkan suami ketika pulang ke rumah. So sweeeet🙂

Segitu dulu mungkin, nilai yang kebayang dan ingin saya tuliskan tentang bagian ini dari novel Taiko. Mungkin ada kisah lain menarik yang bisa dishare dari Taiko. Ga bisa janji, tapi kalo ada, insyaAllah akan saya tulis di waktu yang lain. Sekian ^O^

Categories: From what I read | 2 Comments

I don’t know where it’ll ends

Sejenak teringat dengan segala memori di dua tahun yang lalu. Idealisme membara, semangat begitu menyala-nyala, luapan energi untuk berbuat kebaikan dan mengajak yang lain seakan-akan tak pernah habis. Entah apa yang terjadi, kondisi dalam dan luar diri benar-benar kondusif untuk mewujudkan itu semua. Sepertinya Allah sedang menakdirkan seluruh alam semesta untuk mewujudkan gebrakan-gebrakan revolusioner pada diri waktu itu. Semua terasa mengalir begitu saja.

Pahit rasanya ketika mencoba merefleksikan itu semua pada kondisi kekinian. Entah akan kembali pada masa kejayaan itu atau tidak. Titik nadir ini begitu dalam rasanya, yang terdalam mungkin. Beruntung dulu masih bisa merasakan bahwa ini semua salah, tangis penyesalan masih mudah untuk tertumpahkan. Betapa menyedihkan, bahkan pilu, ketika semua tak lebih baik daripada dulu, namun hati terkadang tetap terasa hambar. Ingin mengondisikan semuanya untuk merespon situasi dengan tepat, namun apalah daya, tak semudah itu ternyata.

Yakin seyakin-yakinnya, tetap masih harus ada syukur yang terucap. Kerisauan ini masih merupakan nikmat dariNya. “Menyerah pada keadaan”, mungkin itu yang akan menjelang jika risaupun akhirnya tak muncul.

Pukulan telak terhadap integritas ketika mengingat-ingat tentang saya dan mereka. Keberadaan dan peran mungkin hanya sekedar sandiwara, tanggung jawab moril terhadap masa lalu yang sempat baik – sepertinya. Tak pantas rasanya disini, tak pantas rasanya membersamai mereka. Punggung malaikat-malaikat itu begitu jauh rasanya. Haruskah menjauh? Lalu semakin membusuk dalam kesendirian.

Memang benar rasanya! Sepertinya Allah sedang mencoba menyadarkan hambaNya, tentang siapa dirinya, sampai mana batas dirinya, dimana habitatnya. Selama ini mereka mungkin terasa begitu menjijikkan, namun ternyata kepongahan itu sedang ditelan mentah-mentah saat ini. Apa lagi yang patut kau banggakan? Merasa lebih baik daripada mereka dengan segala sandiwara-sandiwara kesucian itu?

Sudahlah, tak usah muluk-muluk. Tak sedang mencoba membatasi diri untuk jadi lebih baik. Namun sakit juga rasanya ketika tak pernah sampai menggapainya dan malah terkadang bergerak menjauh. Yasudahlah, sangat cukup sepertinya sekedar menjadi siput dalam mengejar mereka. Daripada berusaha berlari, namun salah arah, akhirnya menatap mereka lagipun tak kuasa, keberadaan mereka tak lagi terasa. Duniapun berubah, menjadi semakin gelap. Risiko ini terlalu besar.

Terserahlah dengan justifikasi mereka, sedang tidak butuh itu. Tangan terbuka dan lapang dada menyambut jika sesuatu tersebut konstruktif. Hanya sekedar ingin berkomentar tak tentu arah dan memperburuk keadaan? Menjauhlah!

Bingung ini akan berakhir seperti apa. Tau bahwa tidak bisa berdiam diri sendiri disini. Ikhtiar tetap selalu ada, namun masa depan begitu abu-abu, abstrak, tak terduga. Maka lebih baik tak usah berekspektasi terlalu banyak.

Tidak sedang menyalahkan eksternal, memang iman ini yang terlalu compang-camping. Tidak menuntut bukti nyata yang namanya “persaudaraan”. Doa insyaAllah cukup. Ingin lebih? Just be konkret.

“Semoga Allah tetap beri istiqamah dan mati dalam amal kebajikan terbaik”, doa itu selalu penuh harap di dalam hati. Lancang rasanya, tapi sepertinya ini lebih baik daripada tidak berbuat apa-apa.

Surga, neraka, really don’t know where it’ll ends. Hati tetap mendamba yang pertama. Hanya bisa berdoa dan berusaha saat ini. Ya Allah, mudahkan dan kuatkanlah…

Categories: Kontemplasi | Leave a comment

Forensik – Passion

Saya menghaturkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya untuk guru-guru saya di forensik: dr. Noorman, dr. Isni, dr. Chevi, dr. Andri, dr. Galih, dr. Naomi. Bukan hanya ilmu science yang saya dapat, tapi begitu banyak nilai-nilai positif kehidupan yang mereka berikan. Ini beberapa hal yang masih terngiang-ngiang hangat dalam pikiran saya saat menulis ini (maaf kalo ngacak dan ga ada urutannya):

  1. Forensik adalah ilmu kedokteran yang digunakan untuk menegakkan hukum atau keadilan.
  2. Jadi dokter itu enak banget! Mudah masuk surga, juga mudah untuk masuk nerakanya!
  3. Perkosaan itu adalah kejahatan yang sulit dibuktikan.
  4. Jangan sekali-kali kalian coba jaga kinik sebelum dapet STR! Camkan kata-kata saya ya!
  5. Dalam diri seseorang itu selalu ada ‘Mr. High’ dan ‘dr. Jackil’. Maka, sebagai dokter, kita memilih.
  6. Sesuatu itu, kalo sudah sekali dilakukan, maka akan cenderung untuk mudah dilakukan di masa yang akan datang, termasuk hal-hal yang tidak baik.
  7. Sebagai dokter umum itu, kalian harus bisa bikin visum! Minimal visum klinik, karena hal ini yang bakal sering ketemu oleh kalian!
  8. Poligami itu dilarang dalam islam, kecuali bisa berlaku adil!
  9. Overtreatment itu adalah malpraktik! Jangan sekali-kali kalian memberikan penanganan terhadap pasien tanpa ada indikasi!
  10. Jangan pernah menuliskan DOA (death on arrival) dalam surat kematian!
  11. Laporkan kepada polisi jika menemukan indikasi tindak pidana pada pasien kita. Jangan ga mau tau karena kita ga ingin terlibat!
  12. Membebaskan orang yang bersalah itu lebih baik daripada mengukum orang yang tidak bersalah.

Keren banget deh forensik pokoknya! Dulu saya yang bisa dibilang hampir ga punya minat buat spesialis forensik, tiba-tiba sumringah terbakar-bakar dengan dunia forensik ketika menjalani perkoasannya. Apalagi setelah saya mendengar bahwa baru ada 1 orang dokter forensik di Sumatra Barat! IWOOOW!

Haha, tapi saya ga mau terlalu cepat menarik kesimpulan terhadap minat. Toh baru satu bagian yang terlewati. Yang jelas, sekarang mah tumpuk minat sebanyak-banyaknya dulu aja. Nanti tinggal istikharah, heheee.

Semangaaaat! Mudah-mudahan semangat fresh koasnya kejaga sampe akhir yaaa🙂

Categories: Forensik, Pengalaman Koas | 1 Comment

Forensik – Mitos Cukur Rambut

Sesuai judul ini, ada satu rules tidak tertulis bagi para koas forensik yaitu “Jangan pernah mencukur segala macem rambut yang ada di tubuh selama menjalani stase forensik!” Di awal menjalani stase forensik 1 april lalu, seinget saya, saya pernah mendengar selentingan peraturan tidak tertulis tersebut. Akan tetapi, saat itu saya tidak terlalu menggubrisnya.

Sampailah saya pada beberapa hari setelah menjalani hari-hari awal forensik yang waktu itu bagi saya cukup membosankan. Tidak ada kasus, tidak ada ‘tamu’ (istilah jenazah yang diperiksa oleh para koas forensik). Dari sebelum menjalani koas, saya berharap saya mendapat banyak ilmu serta pengalaman ketika menjalaninya kelak. Namun, bukan berarti saya mendoakan banyak orang yang sakit atau kasus jenazah yang bersentuhan dengan dunia hukum sehingga harus melewati pemeriksaan forensik, tapi saya hanya ingin mengoptimalkan masa-masa belajar saya ketika koas (Ceileh! Gaya banget! Maklum koas baru!).

Saya akhirnya berpikiran untuk memotong rambut kepala. Tapi, super bener, ini bukan karena saya berpikir saya berharap ada kasus dateng setelah saya potong rambut karena ada peraturan tidak tertulis di atas, melainkan karena saya ingin merapikan rambut saya yang mulai panjang pada saat itu. Dan sekalian juga, cukur jenggot. Pikiran saya: “Kalo sekarang saya potong rambut dan jenggot, insyaAllah nanti panjangnya pas ketika nanti wisudaan bulan Mei. Karna kalo baru potong ketika mau wisuda, kelihatannya bakal cupu banget, tapi kalo dibiarin, terlalu tidak rapi” #sokgaya

Yak! Sesaat akan potong rambut, tidak ada bayang-bayang pikiran aneh dalam benak saya, hanya ada motivasi tadi. So, kalo saya boleh berdalih (bukan dalih juga sebenarnya, karna saya pikir ini rasional) dari anak-anak forensik tentang alasan saya potong rambut: 1) Saya punya motivasi sendiri untuk potong rambut, 2) Saya sepertinya memang lupa bahwa ada larangan seperti itu di stase forensik, 3) Bagi saya itu cuma MITOS! Bagaimana bukan mitos? 1) Saya muslim, saya harus meluruskan aqidah saya termasuk untuk hal seperti ini yang mungkin terkesan remeh bagi para koas, 2) Secara logika rasional, mitos tersebut jelas tidak masuk akal! Coba pikirkan, ada berapa orang spesialias, residen, staf forensik laki-laki yang telah bekerja di SMF Forensik RSHS bertahun-tahun dan ga mungkin selama itu mereka tidak memotong rambutnya! It was really irrasional! Meski saya tau, saya ga boleh takabur.

Sabtu pertama, hari ke-6 kami di forensikpun datang. Sejauh ini, kami belum pernah mendapat on-call, dalam 5 hari sebelumnya pun hanya ada 2 kasus, per satu kasus, hanya memeriksa satu jenazah. Tiba-tiba, di siang bolong itu, saat saya sedang menikmati shalat zuhur di Salman ITB, hape saya yang lupa termatikan nada deringnya berbunyi di tahyat akhir. Beres shalat saya langsung grasak-grusuk matiin bunyi hape dan liat sms yang masuk: “On-Call 12.03”. It means, saya harus langsung segera ke forensik dalam waktu 1 jam, yaitu maksimal 13.03. Adrenalin saya terpacu, ini kali pertama saya mendapatkan on-call di forensik, rasa penasaran terhadap kasus pun mulai menghantui saya.

Sesampainya di forensik, saya langsung mencoba anamnesis karena saya KK dan OP kepala (dalam koas forensik rshs, sudah menjadi tradisi bahwa yang megang daerah kepala yang berurusan sama hal administratif). Masuk ke ruang otopsi, saya agak kaget, ternyata kita kedatangan 2 tamu dalam satu waktu! Ini pertama kalinya kami menghadapi 2 jenazah dalam satu waktu. Dan bahkan, bagi koas senior dari marnat yang tengah menghadapi minggu ke-3nya, inipun pertama kali bagi mereka menangani 2 jenazah satu waktu. Dalam hati, saya tetap calm dan be positive, “Yasudah! Jalani dan kerjakan saja!”. Saat itu, satu jenazah kami laksanakan pemeriksaan luar (PL) dan satunya lagi pemeriksaan dalam (PD). Bagi koas senior forensik yang sudah pernah melihat PD, ada yang cenderung malas kalo dapet kasus yang harus di-PD, karena menyita waktu yang cukup lama (bisa 3kali lipat dari PL, sekitar 3-4 jam), dan apalagi saat itu weekend.

Di tengah-tengah pengerjaan jenazah, tiba-tiba salah seorang koas senior nyeletuk dengan nada bete kesaya, “Hamda! Kamu ga tau peraturan di forensik ya? Selama di forensik itu ga boleh nyukur semua jenis rambut di sekujur badan! Liat kan kerjaan kamu sekarang? Kita jadi kedatangan dua tamu, satunya di-PD lagi!”. Saat itu, saya sadar bahwa saya tiba-tiba jadi pusat perhatian puluhan koas di ruangan otopsi. Ada beberapa teman lain yang juga setuju dengan pendapat koas senior ini. Dan bahkan ada yang juga ikut-ikutan bete, karena mungkin merasa waktu liburannya terenggut oleh saya. Beberapa yang setuju, juga ada yang sekedar setuju dalam nada becanda, “Waah, Hamda! Lu potong rambut ya? Hahaa”. Dan cukup banyak yang ga peduli juga sebenarnya. Namun, saya Cuma mikir, “Take it easy!”. Karena saat itu saya berpikir itu hanya guyonan anak-anak saja.

Besoknya, hari minggu, kami mendapat on-call lagi. Dan kalo ini, kami kedatangan LIMA TAMU dalam satu waktu. Mereka adalah korban KLL Cipularang Xenia-Juke yang sempet ngetop beberapa minggu lalu. Kebayang kecelakaan lalu lintas kan? Kalo ada yang mati seketika dalam kecelakaan, bisa dikatakan hampir selalu jenazah banyak mengalami perlukaan, fraktur, atau organ dalam yang kececer. Dan kalo dari sudut pandang koas, ini nambah-nambahin pekerjaan, karena banyak temuan yang harus dicatat. So, kali ini, sinisme orang-orang yang mungkin ga 100% percaya sama mitos tadi, tapi seminimal-minimalnya ada pengaruh dalam mindset mereka semakin bertambah terhadap saya! Terlebih lagi satu orang temen baik saya yang ga bisa saya sebutkan namanya disini. Betenya to the max banget ke saya. Bahkan sampe beberapa hari setelahnya, setiap ketemu saya kejutekan itu belumlah sirna. Cerita-pun meluas, beberapa temen di bagian lain yang akrab dengan sayapun mencandai dengan memberi julukan terhadap saya, “Public Enemy!”. Hahaa, whatever lah, karena saya yakin itu cuma becandaan aja, toh yang ngomong juga temen-temen akrab.

Lucu ya! Hal kecil yang ga saya ambil pusing yaitu si mitos tadi, ternyata bisa berujung seserius itu dalam dinamika kehidupan koas. Sebagai muslim, mari kita mencoba mengambil hikmah dari al quran:

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia…………….
Siapa saja yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya” (An-Nisaa’ : 116)

Mari luruskan aqidah kita! Masa hal pokok seperti aqidah beragama terkorbankan oleh hal remeh temeh begitu. Allah yang maha menentukan takdir tertandingi oleh cukur rambut yang mendatangkan jenazah, itu teh ga bangeeet! -___-

So, bagi yang belum masuk forensik, jangan rusak aqidah sama mitos yang begituan yaa #pesansaya🙂

Categories: Forensik, Pengalaman Koas | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.